Monday, May 14, 2012

Hari

pagi...

hanya pagi yang memintaku untuk awas
karena dia akrab dengan libasan siang kehidupan yang mendera
dulu ketika hari masih santun, pagi-siang-sore dan malam bergantian mengisi senda

mereka jujur tersenyum



aku tak pernah sangka siang sudah berganti sore dan sore belum menutup tawanya ketika malam menyapa kami lembut di surau

sudah tentu pagi adalah sahabat kami bernyanyi bersama burung, dan siang adalah bapak yang bijak mengajarkan kami kehidupan...

dulu...dulu...

dan aku tak sungkan mengeluh...memang kenapa?

sekarang ini sore harus berebut cahaya dengan malam yg memperkosa gelapnya lewat gemerlap lampu jalan

mereka sangat kompetitif

mereka ingin sukses merebut perhatian

atau ingin sedikit diberi perhatian


siang selalu mengamuk sejak kita memilih gajet, dan anak-anak kita tekun memencet tombol permainan online

tetangga kita memutuskan untuk mengenal kita dari jejaring sosial dan menyekolahkan anak anak mereka di sekolah bertaraf dan bertarif internasional


kalau pun kita terpaksa peduli...kita bisamembeli kepedulian dengan membeli di konter peduli lingkungan...cepat dan efisien...

pokok-pokok kehidupan tidak lagi didengungkan angin di waktu dzuhur dan lonceng gereja

digantikan oleh persiapan ujian nasional


jatidiri ditemukan dalam serbuk dan tawuran

dan orang bijak senang ribut...senang ribut..tentang agama dan kelamin

siang mungkin lelah..kupikir itu..iya betul..

dia bercerai dengan pagi ditengah macetnya ibukota

dan memilih diam....hanya kejamnya matahari yang masih ia biarkan memaki pejalan kaki...

kita bingung....kita berpegangan pada yang materi...kita perkosa anak sendiri....

hari...

aku rindu...

ketika itu kau mengusap lelah kemiskinan kami di bawah pohon yang teduh...

Jakarta, 14 mei 2012 siang

2 comments: