pagi...
hanya pagi yang memintaku untuk awas
karena dia akrab dengan libasan siang kehidupan yang mendera
dulu ketika hari masih santun, pagi-siang-sore dan malam bergantian mengisi senda
mereka jujur tersenyum
aku tak pernah sangka siang sudah berganti sore dan sore belum menutup tawanya ketika malam menyapa kami lembut di surau
sudah tentu pagi adalah sahabat kami bernyanyi bersama burung, dan siang adalah bapak yang bijak mengajarkan kami kehidupan...
dulu...dulu...
dan aku tak sungkan mengeluh...memang kenapa?
sekarang ini sore harus berebut cahaya dengan malam yg memperkosa gelapnya lewat gemerlap lampu jalan
mereka sangat kompetitif
mereka ingin sukses merebut perhatian
atau ingin sedikit diberi perhatian
siang selalu mengamuk sejak kita memilih gajet, dan anak-anak kita tekun memencet tombol permainan online
tetangga kita memutuskan untuk mengenal kita dari jejaring sosial dan menyekolahkan anak anak mereka di sekolah bertaraf dan bertarif internasional
kalau pun kita terpaksa peduli...kita bisamembeli kepedulian dengan membeli di konter peduli lingkungan...cepat dan efisien...
pokok-pokok kehidupan tidak lagi didengungkan angin di waktu dzuhur dan lonceng gereja
digantikan oleh persiapan ujian nasional
jatidiri ditemukan dalam serbuk dan tawuran
dan orang bijak senang ribut...senang ribut..tentang agama dan kelamin
siang mungkin lelah..kupikir itu..iya betul..
dia bercerai dengan pagi ditengah macetnya ibukota
dan memilih diam....hanya kejamnya matahari yang masih ia biarkan memaki pejalan kaki...
kita bingung....kita berpegangan pada yang materi...kita perkosa anak sendiri....
hari...
aku rindu...
ketika itu kau mengusap lelah kemiskinan kami di bawah pohon yang teduh...
Jakarta, 14 mei 2012 siang
hanya pagi yang memintaku untuk awas
karena dia akrab dengan libasan siang kehidupan yang mendera
dulu ketika hari masih santun, pagi-siang-sore dan malam bergantian mengisi senda
mereka jujur tersenyum
aku tak pernah sangka siang sudah berganti sore dan sore belum menutup tawanya ketika malam menyapa kami lembut di surau
sudah tentu pagi adalah sahabat kami bernyanyi bersama burung, dan siang adalah bapak yang bijak mengajarkan kami kehidupan...
dulu...dulu...
dan aku tak sungkan mengeluh...memang kenapa?
sekarang ini sore harus berebut cahaya dengan malam yg memperkosa gelapnya lewat gemerlap lampu jalan
mereka sangat kompetitif
mereka ingin sukses merebut perhatian
atau ingin sedikit diberi perhatian
siang selalu mengamuk sejak kita memilih gajet, dan anak-anak kita tekun memencet tombol permainan online
tetangga kita memutuskan untuk mengenal kita dari jejaring sosial dan menyekolahkan anak anak mereka di sekolah bertaraf dan bertarif internasional
kalau pun kita terpaksa peduli...kita bisamembeli kepedulian dengan membeli di konter peduli lingkungan...cepat dan efisien...
pokok-pokok kehidupan tidak lagi didengungkan angin di waktu dzuhur dan lonceng gereja
digantikan oleh persiapan ujian nasional
jatidiri ditemukan dalam serbuk dan tawuran
dan orang bijak senang ribut...senang ribut..tentang agama dan kelamin
siang mungkin lelah..kupikir itu..iya betul..
dia bercerai dengan pagi ditengah macetnya ibukota
dan memilih diam....hanya kejamnya matahari yang masih ia biarkan memaki pejalan kaki...
kita bingung....kita berpegangan pada yang materi...kita perkosa anak sendiri....
hari...
aku rindu...
ketika itu kau mengusap lelah kemiskinan kami di bawah pohon yang teduh...
Jakarta, 14 mei 2012 siang

dimana jendral??
ReplyDeletedikantor sob
ReplyDelete