Oleh : Bram
UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat 4 mengamanahkan pemerintah
harus menyekenggarakan pendidikan bagi semua warga Negara dan setiap wagra
Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Selain itu, Indonesi a juga telah berkomitmen
untuk memenuhi komitmen Internasional di
bidang pendidikan, yaitu komitmen Tujuan MDGs tentang pendidikan yaitu mencapai
pendidikan dasar untuk semua warga di 2015 dan komitmen Indonesia bersama
Negara PBB lainnya dalm Education For All
yang dinyatakan di Senegal tahun 2000.
Sekarang ini, pemerintah pusat dan daerah sudah
mengalokasikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD untuk memenuhi
penyelenggaraan pendidikan. Namun demikian, masih banyak kendala dalam
pelaksanaannya terutama untuk pelaksanaan pendidikan dasar gratis 9 tahun. Sebagaimana
dilansir oleh Unesco melalui EFA Global
Monitoring Report 2011; The Hidden Crisi: Armed Conflict and Education, Indonesia
menduduki peringkat ke-69 dari 127 negara di dunia dalam pencapaian pembangunan pendidikan untuk semua (EDI)[1] 2011,
turun 3 peringkat dari tahun 2010[2].
Sebagian
besar alokasi APBN untuk fungsi pendidikan didistribusikan melalui mekanisme
transfer ke daerah, pada apbn-p 2010, dana yang ditransfer ke daerah sebesar
Rp. 128 Trilliun (57 % dari total anggaran fungsi pendidikan), pada apbn-p 2011
158,9 Trilliun (59,5% dari anggaran fungsi pendidikan) dan RAPBN 2012 158, 9 Trilliun (65.04% dari anggaran fungsi pendidikan). Mekanisme Transfer daerah ini menjadi permasalahan tersendiri karena kemauan
politik pemerintahan daerah dalam anggaran pendidikan dan kemampuan fiskal
daerah yang berbeda-beda, sehingga anggaran fungsi pendidikan 20% dari APBN
belum maksimal dialokasikan, terutama untuk pendidikan dasar. Oleh karena itu, masyarakat juga harus
mengawasi pengalokasian dan pendistribusian anggaran transfer daerah ini agar
efektifitas pengalokasian di daerahnya masing-masing.
Selain
Isu pendidikan dasar, belanja pemerintah pusat juga terdekonsentrasi terhadap
Kementerian dan Lembaga selain Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian
Agama, sehingga proses Control Delivery
anggaran pada Kemeterian dan lembaga Lain tidak dapat diukur secara optimal dan
reliabel , terutama untuk perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh
Kementerian dan Lembaga selain Kemdiknas dan Kemenag. Oleh Karenanya, Wacana
penertiban Perguruan Tinggi yang dikelola oleh Lembaga dan Kementerian lain
tersebut adalah hal yang perlu dilakukan, sehingga
Table Komponen Anggaran Pendidikan Tahun
Anggaran 2010, 2011, dan 2012
Komponen Anggaran Pendidikan
|
2010
|
2011
|
2012
|
||
UU APBN P
|
UU APBNP
|
PAGU ANGGARAN
|
|||
A
|
Belanja Pemerintah Pusat
|
96.480,30
|
105.356,3
|
99.194,0
|
|
1
|
Kementerian Pendidikan Nasional
|
62.393,30
|
67.344,1
|
57.817,9
|
|
2
|
Kementerian Agama
|
26.326,40
|
30.363,2
|
31.133,4
|
|
3
|
18 K/L lainnya
|
7.760,40
|
7.649,0
|
6.062,6
|
|
Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (999)
|
4.180,2
|
||||
B
|
Transfer ke Daerah
|
127.749,10
|
158.966,5
|
186.371,8
|
|
1
|
DBH Migas untuk pendidikan
|
748,50
|
882,3
|
799,4
|
|
2
|
DAK Pendidikan
|
9.334,90
|
10.041,3
|
10.041,3
|
|
3
|
Anggaran Pendidikan dan DAU
|
||||
a. Non gaji
|
11.365,70
|
11.276,6
|
10.858,6
|
||
b. Gaji
|
84.557,40
|
93.013,1
|
103.016,9
|
||
4
|
Tambahan Penghasilan Guru PNSD
|
5.800,00
|
3.696,1
|
2.898,9
|
|
5
|
Tambahan DAU untuk Tunjangan Profesi Guru
|
10.994,90
|
18.537,7
|
30.539,8
|
|
6
|
Dana OTSUS untuk Pendidikan
|
2.309,90
|
2.706,4
|
3.234,3
|
|
7
|
Dana Insentif Daerah
|
1.387,80
|
1.387,8
|
1.387,8
|
|
8
|
Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
|
16.812,0
|
23.594,8
|
||
9
|
Dana Infrastruktur Pendidikan
|
1.250,0
|
613,0
|
||
C
|
Dana Pengembangan Pendidikan Nasional
|
1.000
|
2.617,7
|
1.000,0
|
|
Total Anggaran Fungsi Pendidikan
|
225.229,40
|
266.940,50
|
286.565,8
|
||
Prsentase Anggaran Pendidikan
|
20,0%
|
(20,21%)
|
(20,20%)
|
||
TOTAL BELANJA NEGARA
|
1.126.146,50
|
1.320.751,3
|
1.418.497,7
|
||
Sumber:
APBN-P 2010, APBN-P 2011, usulan RKAKL 2012
[1] Total
nilai EDI diperoleh dari rangkuman
perolehan empat kategori penilaian, yaitu angka perpartisipasi pendidikan
dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut
kesetaraan jender dan angka bertahan siswa hingga kelas V sekolah dasar.
[2] UNESCO.2011.
Education For All Monitoring Report 2011. http://unesdoc.unesco.org/images/0019/001907/190743e.pdf

No comments:
Post a Comment